Amerika Serikat Ingin Mengirim Misi Ke Mars Menggunakan Propulsi Listrik Tenaga Nuklir
Pada tanggal 24 Maret 2026, NASA (badan luar angkasa Amerika Serikat) mengumumkan akan meluncurkan misi Skyfall. Dalam misi ini, pesawat luar angkasanya akan menggunakan sistem propulsi listrik tenaga nuklir untuk menuju ke planet Mars.
Misi Skyfall Menuju Mars
Setelah sekian lama rencana untuk menggunakan tenaga nuklir sebagai bagian dari pesawat luar angkasa, karena segala hal sempat ditangguhkan terus menerus, akhirnya kali ini NASA benar ingin melakukannya. NASA telah menghabiskan waktu penelitian selama puluhan tahun dan biaya kurang lebih US$ 20 miliar atau sekitar Rp 340 triliun (kurs US$ 1 = Rp 17.000). Rencananya pada tahun 2028, pesawat luar angkasa Space Reactor-1 (SR-1) Freedom akan diluncurkan menuju planet Mars.
SR-1 Freedom disebut oleh NASA sebagai pesawat luar angkasa pertama yang menggunakan tenaga nuklir untuk menjelajah planet-planet di luar angkasa. Dalam misi Skyfall, juga akan dikirim tiga helikopter seperti helikopter Ingenuity yang telah beroperasi di planet Mars.

Helikopter Ingenuity mendarat di planet Mars bersama dengan robot penjelajah Perseverance di bulan Februari 2021 dan terbang sebanyak 72 kali yang berakhir di bulan Januari 2024. Ingenuity telah membuktikan kalau ia sangat berguna sehingga pada misi Skyfall, armada tiga helikopter ini akan mempunyai tugas yang lebih berat.
Tiga helikopter akan mencari lokasi potensial untuk pendaratan manusia, menggunakan kamera dan radar penembus tanah untuk memetakan medan, menilai bahaya dan mencari endapan air es di bawah permukaan planet Mars. Lokasi air ini akan sangat penting untuk misi manusia ke planet Mars di akan datang.
Potensi Propulsi Listrik Tenaga Nuklir
Yang menjadi hal menarik dalam misi Skyfall adalah pesawat luar angkasa SR-1 Freedom menggunakan propulsi listrik tenaga nuklir (Nuclear Eletric Propulsion atau disingkat NEP) karena cara bekerjanya adalah dengan menggunakan reaktor nuklir yang kecil yang dapat menghasilkan panas yang kemudian panas ini diubah menjadi listrik untuk menggerakan pesawat luar angkasa dengan efisien.

Hal ini berbeda dengan radioisotop yang memberi daya pada pesawat luar angkasa Voyager, karena sistem tersebut hanya menggunakan panas sebagai daya tetapi tidak berperan sebagai penggerak. Sedangkan pada NEP adalah sistem penggerak aktif dan tidak seperti panel surya yang bergantung jarak dengan Matahari, sehingga sangat cocok untuk misi menuju sistem tata surya bagian luar.
NASA memandang NEP sebagai sesuatu yang bukan hanya sebuah misi tunggal karena dengan propulsi listrik tenaga nuklir akan dapat membawa muatan yang lebih besar dengan lebih efisien ke planet-planet luar. Dengan menggunakan sistem tenaga surya akan menjadi tidak mencukupi jika kita ingin membuat pesawat luar angkasa yang bisa membawa manusia ke planet-planet yang lebih jauh dan memakan waktu bertahun-tahun.
