Mirip Kembang Api Dilihat Dari Luar Angkasa
Saat terbang 400 kilometer di atas Bumi dengan kecepatan hipersonik, astronot NASA yang bernama Nichole Ayers mengambil foto yang mirip kembang api jika dilihat dari luar angkasa. Sebuah percikan raksasa dengan kilatan biru dan tentakel merah yang melesat ke atas.
Kembang Api Alam Bumi
Pertunjukan listrik yang mirip kembang api ini lahir dari badai petir musim panas di tahun 2025. Apa yang difoto Nichole dari orbit adalah salah satu contoh paling langka dari Fenomena Listrik Singkat (Transient Luminous Event), sebuah fenomena atmosfer yang jarang terlihat dari Bumi karena terjadi di atas awan, pada ketinggian antara 40 dan 80 kilometer.
Dalam gambar tersebut, pancaran biru merambat ke ruang angkasa menuju lapisan atas atmosfer. Berkas cahaya diikuti oleh kilatan merah yang menyebar seperti tentakel di langit. Peristiwa luar biasa ini berlangsung kurang dari satu detik.
Ini bukanlah kejadian pertama kali dari kembang api alam. Pada suatu malam di tahun 2024, astronot NASA bernama Jeanette Epps juga pernah mengarahkan kamera beresolusi tinggi dari Stasiun Luar Angkasa Internasional ke arah badai petir di Australia. Dia juga berhasil menangkap gambar semburan raksasa berdenyut dengan semburan biru dan merah dalam semua kemegahannya dari luar angkasa.
Kembang Api Alam Penting Untuk Dipelajari
Petir memicu semburan listrik yang kuat di atmosfer kita hampir setiap detik, namun cara kerja internal kekuatan alam ini masih belum sepenuhnya dipahami. Merekam fenomena tersebut sangat penting bagi para ilmuwan yang meneliti sistem cuaca Bumi.

Transient Luminous Events membantu ilmuwan memahami interaksi kompleks antara badai, petir, dan lapisan atas atmosfer Bumi. Karena sangat cepat dan sulit terlihat, banyak orang belum pernah menyaksikannya, menjadikannya salah satu misteri alam yang menarik.
Penelitian ini merupakan kelanjutan dari eksperimen Thor-Davis yang dirancang untuk menyelidiki petir di atmosfer atas dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi konsentrasi gas rumah kaca. Eksperimen ini disebut Thor, diambil dari nama dewa guntur, petir dan badai dalam mitologi Nordik yang dipimpin oleh Danish Technical University bersama dengan European Space Agency (Badan Luar Angkasa Uni Eropa).
Singkatnya, Transient Luminous Events adalah seperti petir tetapi terjadi di langit atas, yang menunjukkan bagaimana energi listrik dari badai bisa memancar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
